Saudara-saudaraku anggota PPI Hitotsubashi tercinta,
Bapak Wisnu, ketua PPI Hitotsubashi kita di berbagai kesempatan sering berkata, baik dengan penuh wibawa maupun dalam canda tawa: sebagai generasi pejuang muda Indonesia marilah kita “Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia”. Entah apa yang ada di benak beliau ketika mengucapkan “sumpah palapa” ini, yang jelas saya menginterpretasikannya dengan sangat sederhana, yakni sebagai sebuah seruan untuk memperkenalkan Indonesia dan membentuk citra Indonesia sebaik-baiknya di mata orang dari negara lain.
Menurut saya, seruan ini terutama ditujukan kepada kita yang mendapat kesempatan eksklusif untuk menuntut ilmu di luar negeri dan bergaul langsung dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Karena kita yang belajar di luar negeri secara otomatis menjadi duta duta Indonesia. Bahkan, bukan tidak mungkin perilaku kita selama berinteraksi dengan orang dari berbagai negara itu akan dilabeli sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai duta Indonesia di mata dunia? Karena saya sangat setuju dengan konsep Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai sekarang juga alias 3 M yang pernah dipopulerkan oleh seorang agamawan ternama di Indonesia, maka menurut saya konsep ini pun dapat kita terapkan ketika kita “memasarkan” Indonesia di mata dunia. Salah satunya adalah ketika kita berpartisipasi di ajang Hitotsubashi Festival pada tanggal 31 Oktober sampai 2 November mendatang.
M pertama, Mulai dari hal yang kecil, bisa kita awali dengan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih memiliki “budaya” yang patut dibanggakan. Bukan bukan, saya tak meminta kita semua untuk mempelajari tari Pendet, memakai baju Batik setiap hari dan melestarikan bahasa daerah. Budaya yang saya maksudkan disini lebih kepada budaya yang berkaitan dengan sikap dan tingkah laku kita sebagai orang Indonesia.
Sudah terlalu sering orang memiliki pengalaman pahit dengan Indonesia dan “budayanya”. Jam karet, suka buang sampah sembarangan, tak disiplin lalu lintas, enggan mengantri misalnya. Warga Inggris yang saya temui di bandara Juanda Surabaya bermuka masam akibat seorang pribumi tiba tiba datang menyerondol dia ketika mengantri di imigrasi. Teman saya orang Finlandia geleng-geleng kepala melihat lalu lintas Malang yang semrawut; orang menyeberang seenaknya, pedagang kaki lima mangkal di tempat tak seharusnya, mobil yang menerobos lampu merah dan sebagainya. Saya pribadi tak berani untuk menghitung sudah berapa kali saya mengecewakan teman Jepang ketika saya telat “3 menit saja” ketika berjanji untuk bertemu mereka. “Budaya” seperti inilah yang mengotori citra Indonesia di mata dunia. Ketika kita telat, ketika kita tidak membuang sampah sesuai dengan aturan Jepang, ketika kita menerobos lampu merah untuk pejalan kaki, pada saat yang sama kita membentuk citra negatif akan bangsa kita. “Mereka seperti itu ya karena memang itu budayanya” mungkin seperti itulah makna tatapan orang bangsa lain terhadap kita.
Karena itu pada Hitotsubashi Festival nanti mungkin kita bisa mengawali untuk mengubah citra itu ke arah yang positif dengan melakukan hal hal kecil seperti disiplin membuang dan memisahkan sampah sesuai dengan aturan yang ditetapkan panitia atau datang ke rapat perwakilan dengan tepat waktu. Dan di saat yang sama tunjukkanlah “budaya” kita yang pantas dibanggakan seperti senyum ramah kepada siapa saja, melayani pembeli si stan kita dengan obrolan akrab layaknya pedagang sate laris di Indonesia, dan sebagainya. Hal hal kecil seperti ini tak boleh kita remehkan. Bukankah kesuksesan Muhammad Younus melalui microcreditnya untuk mengurangi kemiskinan di Bangladesh diawali dengan langkah sederhana meminjamkan uang dalam jumlah “remeh” ke beberapa puluh wanita? Bergantung dari usaha kita, langkah awal yang sederhana dapat menjadi lompatan besar yang menghasilkan sesuatu melebihi perkiraan kita.
M kedua, Mulai dari diri sendiri. Mengingat jumlah anggota PPI Hitotsubashi yang minim dibandingkan dengan PPI di universitas lain, maka setiap individu dituntut untuk memiliki komitmen dalam memasarkan Indonesia di Hitotsubashi Festival nanti. Slogan “kalau bukan KITA, siapa lagi?” mungkin perlu ditingkatkan menjadi “kalau bukan SAYA, siapa lagi?” Masing-masing dari kita memikul tanggung jawab untuk membentuk citra Indonesia di mata dunia.
Dan M yang terakhir, Mulai sekarang juga!!! Untuk masing masing anggota PPI Hiotsubashi, masih ada waktu 2 minggu untuk belajar kembali cara tersenyum ramah, masih ada cukup waktu untuk menghafal jenis jenis sampah dan cara memilah milahnya, dan masih ada kesempatan untuk berlatih mengucapkan “arigatou gozaimashita” dengan sempurna. Mari kita mulai untuk mempersiapkan diri menghadapi Hitotsubashi Festival, sekarang juga!
Hitotsubashi Festival tanggal 31 Oktober sampai 2 November adalah salah satu kesempatan emas bagi kita untuk memasarkan “budaya baik” Indonesia. Biarlah orang yang membeli sate kita berkata “ternyata yakitori ala Indonesia gak jauh beda ya dengan yakitori punya Jepang”, asalkan mereka bisa puas dengan pelayanan kita di Hitotsubashi Festival sambil tersenyum dan berkata “ternyata orang Indonesia memang ramah dan bisa juga buang sampah dengan benar ya”
Dan semoga partisipasi kita di Hitotsubashi Festival 2009 ini bisa menjadi salah satu langkah awal untuk mewujudkan sumpah palapa Bapak Ketua kita: “Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia”
Saudara saudaraku anggota PPI Hitotsubashi tercinta, mari kita sukseskan Hitotsubashi Festival 2009 nanti, bukan hanya demi kas kita(^^) tapi demi bangsa kita, Indonesia! Semangat!!!!
Elien
Fak.Hukum Hitotsubashi 2006
yang (masih) sering ngaret meski buang sampahnya benar^^
October 17, 2009 at 12:38 pm |
keren banget….
March 2, 2010 at 7:13 pm |
sebagai pengobat rindu yg sedang jauh dari kampung halaman indonesia, dengerin aja Java FM internet radio online, memutar musik hits indonesia sepanjang masa nonstop 24 jam