Undangan Diskusi 29 Januari 2010

January 29, 2010

Assalamualaikum ww
Salam sejahtera bagi kita semua.

Rekan-rekan mahasiswa di Jepang Yth.,

Berikut kami sampaikan undangan diskusi mahasiswa yang mohon maaf mendadak karena kedatangan para tamu ke Jepang seperti durian runtuh saja.

Tepat di saat kita terimbas masalah yang berlarut-larut di tanah air, kita kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Nugroho Wahyu yaitu seorang mantan presiden mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang sekarang menjadi aktivis reformasi birokrasi.

Beliau istimewa karena sejak menjabat sebagai staf pelaksana sudah memiliki akses ke Dirjen Bea Cukai dengan kinerja dan warna integritasnya. Kini hanya dengan pangkat III/C, dan lagi-lagi “hanya” lulusan S1, beliau dipercaya menjadi kepala kantor dengan 60 orang pegawai dan anggaran milliaran rupiah per tahun. Lebih hebatnya lagi beliau masih bisa konsisten dengan warna integritas dan kesungguhan di tengah godaan materi yang semakin intens.

Inti diskusi dengan beliau adalah berbagi tips sehingga kita sebagai mahasiswa agar tetap idealis dan bisa memimpin perubahan saat berada di kantor/perusahaan tanpa kehilangan warna bahkan kita menjadi pewarna lingkungan. Ini menjadi motivasi buat semua mahasiswa agar selalu bersemangat membawa perubahan dan menjadi agen perubahan di manapun kita berada.

Mari kita ikuti diskusi online pada:
Hari Tanggal : Jumat, 29 Januari 2010
Waktu : 19.00 s.d. 21.00 JST
Radio : http://ppijepang.org/
Diorganisir oleh:
PPI Korda Kanto & PPI Komsat Hitotsubashi

Didukung oleh:
PPI Jepang

Wassalam,

PPI Komisariat Hitotsubashi

Diskusi Panel Ekonomi Indonesia 5 Desember 2009

December 22, 2009

TOKYO PANEL DISCUSSION ON INDONESIAN ECONOMY

HITOTSUBASHI UNIVERSITY, 5 DECEMBER 2009

Committee on Strategic Study of PPI Japan proudly presents a Panel Discussion to reveal “Indonesian Recent Economic Development” scheduled as follows:

Opening Remarks

10.00-10.05         Opening remark by MCs: Andar Ramona Sinaga and Yudistira Prayoga (Master students at Hitotsubashi University)

10.05-10.15         Opening remark by Farid Triawan (PhD student at Tokyo Technology University and the Chairman of Indonesian Student Association- PPI in Japan)

Panel Discussion Sessions

1st Session

Moderator: Bayu Dwi Kariastanto (PhD student at GRIPS)

10.15-10.55         1. Sartono SE, M.Com (Assistant Deputy in Coordinating Minister for Economic Affairs) presents “Recent economic policies to deal with future challenges”

2. Finaldo SE, MA (Subdivision Head of Investment, Fiscal Policy Office) presents “Fiscal instruments to enhance the economic growth”

10.55-11.05     Panelist: Subejo (Agriculture economics PhD student at Tokyo University)

10.05-11.25     Q&A

11.25-11.30     Photo sessions and break

2nd Session

Moderator: Irwanda Wisnu Wardhana

(Master student at Hitotsubashi University and PPIJ Committee Head of Strategic Study)

11.30-12.00         Dr. Iskandar Simorangkir SE, MA (Head of Economic Research Bureau, Bank Indonesia) presents “Monetary policy responses to global crisis”

12.00-12.10     Panelist: Fithra Faisal H. (Economics PhD student at Waseda University)

12.10-12.30     Q&A and Conclusions

This event is fully supported by PPI Commissariat Hitotsubashi, PPI Kanto Region, IASA (Indonesia Agriculture Sciences Association) Japan, Asian Public Policy Program, Hitotsubashi University and Education Attaché of Embassy of the Republic of Indonesia

Pelajar Indonesia di Jepang Bela Bibit-Chandra

November 3, 2009

JAKARTA–Para pelajar Indonesia di Jepang pun tanggap pada kisruh kasus dua pimpinan KPK non-aktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah. Mereka pun siap menjaminkan diri demi usaha penangguhan penahanan keduanya.

“Perwakilan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang juga siap bergabung dengan para tokoh Indonesia untuk menjaminkan diri demi penangguhan penahanan pimpinan KPK non-aktif,”ucap salah satu Dewan Penasehat PPI Jepang yang juga peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat)FH UGM Oce Madril,Selasa (3/11).

Lengkapnya di sini

Orang Indonesia di Jepang Bela Bibit-Chandra

November 3, 2009

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang turut prihatin dengan penahanan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Mereka menyatakan, kasus ini menimbulkan ketidakpastian hukum.

“Hal ini menyebabkan hilangnya kepercayaan investor asing terhadap iklim investasi nasional sehingga melemahkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar PPI Jepang dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan Ketua Umum PPI Jepang, Farid Triawan, Selasa 3 November 2009.

Lengkapnya kunjungi di sini

Pernyataan Sikap PPIJ Perihal Permasalahan Hukum Indonesia

November 3, 2009

Kami Pengurus Pusat Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang mewakili segenap mahasiswa Indonesia di Jepang menimbang bahwa berbagai pencapaian pemerintahan Indonesia telah mengangkat citra Indonesia di mata masyarakat Jepang dan dunia. Hal tersebut antara lain:

  1. Demokratisasi dalam satu dekade terakhir telah membuat Indonesia menjadi negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, serta menjadi model ideal transisi rezim otoriter menjadi demokratis secara damai dan stabil.
  2. Pertumbuhan ekonomi positif pada krisis keuangan global saat ini menunjukkan ketahanan ekonomi bangsa dan kokohnya Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru dunia.
  3. Partisipasi dan kepeloporan Indonesia dalam berbagai forum, seperti G20 dan pembahasan isu internasional, seperti perubahan iklim global, meneguhkan posisi Indonesia dalam kelompok negara penentu kebijakan strategis dunia.

Namun, kami menyesalkan bahwa permasalahan hukum yang terjadi di tanah air saat ini telah memberikan efek negatif yang serius terhadap pencapaian di bidang politik dan ekonomi, antara lain:

  1. Konflik antar penegak hukum (polisi, jaksa, dan komisi pemberantasan korupsi) menunjukkan adanya ketidakpastian hukum. Hal ini menyebabkan hilangnya kepercayaan investor asing terhadap iklim investasi nasional sehingga melemahkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
  2. Berlarut-larutnya penyelesaian masalah hukum ini menurunkan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap itikad baik pemerintah dalam menuntaskan agenda nasional pemberantasan korupsi sebagai salah satu amanat reformasi.
  3. Permasalahan hukum ini dapat menyeret segenap komponen bangsa ke medan konflik horizontal dan vertikal yang akan sangat merugikan kemajuan Indonesia.

Dengan memperhatikan dan mengkaji pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, disertai semangat profesionalitas penegakan hukum dan menjunjung tinggi kode etik yang menjadi salah satu elemen utama pendorong Jepang menjadi negara maju, kami memutuskan dan menyatakan sikap:

  1. Menolak dan melawan segala upaya yang melemahkan institusi dan kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK);
  2. Menuntut Presiden SBY untuk memberikan dukungan politik dan kebijakan secara konsisten untuk memperkuat agenda nasional pemberantasan korupsi.
  3. Menuntut pihak Kepolisian dan Kejaksaan Agung untuk bertindak dan bekerja secara profesional khususnya dalam kasus hukum dua pimpinan KPK non-aktif.
  4. Mendukung pembentukan Tim Pencari Fakta Independen untuk mengusut kebenaran transkrip rekaman berisi kriminalisasi KPK diikuti dengan tindakan hukum yang tegas terhadap oknum-oknum yang terlibat apabila rekaman tersebut terbukti benar.
  5. Memberikan dukungan moral kepada KPK untuk terus bekerja menuntaskan kasus-kasus korupsi besar seperti kasus Bank Century dan BLBI.
  6. Menghimbau seluruh komponen masyarakat sipil untuk melakukan advokasi, penolakan, dan perlawanan terhadap segala upaya yang melemahkan upaya pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda nasional.

Tokyo, Jepang, 2 November 2009

Ketua Komite Kajian Strategis PPI Jepang        Ketua Umum PPI Jepang

Irwanda Wisnu Wardhana                                      Farid Triawan

Jualan Sate

November 3, 2009

Pada tanggal 31 Oktober-1 November 2009 telah berlangsung kegiatan Festival Hitotsubashi Ikkyo-sai yang diikuti oleh segenap kru PPIJ Komisariat Hitotsubashi dan didukung penuh oleh teman-teman PPIJ se-Kanto. Pada kegiatan kali ini, tim Indonesia (karena hanya ada satu stand Indonesia) menjual masakan khas yang sangat populer di tanah air yaitu sate ayam dengan bumbu kacang dan nasi pandan (mirip-mirip lontong) plus memperkenalkan teh ala Indonesia serta batik dan kebaya.

Tujuan kesertaan tim Indonesia pada kegiatan ini adalah dua hal: ke luar, adalah soft diplomacy dimana kita mengenalkan kelebihan-kelebihan Indonesia ke hadapan publik Jepang seperti kuliner, keramahtamahan, kekeluargaan, keagamaan, dan nilai ketimuran khas Indonesia lainnya dan; ke dalam, membangun kebersamaan dan jalinan persaudaraan antara sesama mahasiswa. Alhamdulillah kedua hal tersebut bisa dicapai plus bonus keuntungan dagang yang lumayan. Ini namanya rezeki nomplok alias bagai dapat durian runtuh….

Semoga kerja-kerja sederhana seperti ini dapat “membuka dunia untuk Indonesia dan membuka Indonesia untuk dunia”. Semoga teman-teman Hitotsubashi dapat mengikhlaskan selalu setiap kontribusi yang telah diberikan sehingga akan menuai kebaikan di dunia dan akhirat.

Menbudpar menerima surat PPI Jepang

October 15, 2009

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ad Interim, M Nuh, mengakui, pihaknya telah menerima surat keberatan atas rencana kedatangan Miyabi ke Indonesia dari para pelajar Indonesia yang berada di Jepang.

”Permasalahan ini (kasus Miyabi, red) ternyata tidak hanya disampaikan oleh masyarakat Indonesia di dalam negeri, tapi juga dari luar negeri di antaranya perhimpunan pelajar Indonesia di Jepang,” ujar M Nuh di kantornya, Rabu ((14/10).

Selengkapnya lihat di republika online

Membangun citra Indonesia: kalau bukan KITA, siapa lagi?

October 15, 2009

Saudara-saudaraku anggota PPI Hitotsubashi tercinta,

Bapak Wisnu, ketua PPI Hitotsubashi kita di berbagai kesempatan sering berkata, baik dengan penuh wibawa maupun dalam canda tawa: sebagai generasi pejuang muda Indonesia marilah kita “Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia”. Entah apa yang ada di benak beliau ketika mengucapkan “sumpah palapa” ini, yang jelas saya menginterpretasikannya dengan sangat sederhana, yakni sebagai sebuah seruan untuk memperkenalkan Indonesia dan membentuk citra Indonesia sebaik-baiknya  di mata orang dari negara lain.

Menurut saya, seruan ini terutama ditujukan kepada kita yang mendapat kesempatan eksklusif untuk menuntut ilmu di luar negeri dan bergaul langsung dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Karena kita yang belajar di luar negeri secara otomatis menjadi duta duta Indonesia. Bahkan, bukan tidak mungkin perilaku kita selama berinteraksi dengan orang dari berbagai negara itu akan dilabeli sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai duta Indonesia di mata dunia? Karena saya sangat setuju dengan konsep Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai sekarang juga alias 3 M yang pernah dipopulerkan oleh seorang agamawan ternama di Indonesia, maka menurut saya konsep ini pun dapat kita terapkan ketika kita “memasarkan” Indonesia di mata dunia. Salah satunya adalah ketika kita berpartisipasi di ajang Hitotsubashi Festival pada tanggal 31 Oktober sampai 2 November mendatang.

M pertama, Mulai dari hal yang kecil, bisa kita awali dengan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih memiliki “budaya” yang patut dibanggakan. Bukan bukan, saya tak meminta kita semua untuk mempelajari tari Pendet, memakai baju Batik setiap hari dan melestarikan bahasa daerah. Budaya yang saya maksudkan disini lebih kepada budaya yang berkaitan dengan sikap dan tingkah laku kita sebagai orang Indonesia.

Sudah terlalu sering orang memiliki pengalaman pahit dengan Indonesia dan “budayanya”. Jam karet, suka buang sampah sembarangan, tak disiplin lalu lintas, enggan mengantri misalnya. Warga Inggris yang saya temui di bandara Juanda Surabaya bermuka masam akibat seorang pribumi tiba tiba datang menyerondol dia ketika mengantri di imigrasi. Teman saya orang Finlandia geleng-geleng kepala melihat lalu lintas Malang yang semrawut; orang menyeberang seenaknya, pedagang kaki lima mangkal di tempat tak seharusnya, mobil yang menerobos lampu merah dan sebagainya. Saya pribadi tak berani untuk menghitung sudah berapa kali saya mengecewakan teman Jepang ketika saya telat “3 menit saja” ketika berjanji untuk bertemu mereka. “Budaya” seperti inilah yang mengotori citra Indonesia di mata dunia. Ketika kita telat, ketika kita tidak membuang sampah sesuai dengan aturan Jepang, ketika kita menerobos lampu merah untuk pejalan kaki, pada saat yang sama kita membentuk citra negatif akan bangsa kita. “Mereka seperti itu ya karena memang itu budayanya” mungkin seperti itulah makna tatapan orang bangsa lain terhadap kita.

Karena itu pada Hitotsubashi Festival nanti mungkin kita bisa mengawali untuk mengubah citra itu ke arah yang positif dengan melakukan hal hal kecil seperti disiplin membuang dan memisahkan sampah sesuai dengan aturan yang ditetapkan panitia atau datang ke rapat perwakilan dengan tepat waktu. Dan di saat yang sama tunjukkanlah “budaya” kita yang pantas dibanggakan seperti senyum ramah kepada siapa saja, melayani pembeli si stan kita dengan obrolan akrab layaknya pedagang sate laris di Indonesia, dan sebagainya. Hal hal kecil seperti ini tak boleh kita remehkan. Bukankah kesuksesan Muhammad Younus melalui microcreditnya untuk mengurangi kemiskinan di Bangladesh diawali dengan langkah sederhana meminjamkan uang dalam jumlah “remeh” ke beberapa puluh wanita? Bergantung dari usaha kita, langkah awal yang sederhana dapat menjadi lompatan besar yang menghasilkan sesuatu melebihi perkiraan kita.

M kedua, Mulai dari diri sendiri. Mengingat jumlah anggota PPI Hitotsubashi yang minim dibandingkan dengan PPI di universitas lain, maka setiap individu dituntut untuk memiliki komitmen dalam memasarkan Indonesia di Hitotsubashi Festival nanti. Slogan “kalau bukan KITA, siapa lagi?” mungkin perlu ditingkatkan menjadi “kalau bukan SAYA, siapa lagi?” Masing-masing dari kita memikul tanggung jawab untuk membentuk citra Indonesia di mata dunia.

Dan M yang terakhir, Mulai sekarang juga!!! Untuk masing masing anggota PPI Hiotsubashi, masih ada waktu 2 minggu untuk belajar kembali cara tersenyum ramah, masih ada cukup waktu untuk menghafal jenis jenis sampah dan cara memilah milahnya, dan masih ada kesempatan untuk berlatih mengucapkan “arigatou gozaimashita” dengan sempurna. Mari kita mulai untuk mempersiapkan diri menghadapi Hitotsubashi Festival, sekarang juga!

Hitotsubashi Festival tanggal 31 Oktober sampai 2 November adalah salah satu kesempatan emas bagi kita untuk memasarkan “budaya baik” Indonesia. Biarlah orang yang membeli sate kita berkata “ternyata yakitori ala Indonesia gak jauh beda ya dengan yakitori punya Jepang”, asalkan mereka bisa puas dengan pelayanan kita di Hitotsubashi Festival sambil tersenyum dan berkata “ternyata orang Indonesia memang ramah dan bisa juga buang sampah dengan benar ya”

Dan semoga partisipasi kita di Hitotsubashi Festival 2009 ini bisa menjadi salah satu langkah awal untuk mewujudkan sumpah palapa Bapak Ketua kita: “Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia”

Saudara saudaraku anggota PPI Hitotsubashi tercinta, mari kita sukseskan Hitotsubashi Festival 2009 nanti, bukan hanya demi kas kita(^^) tapi demi bangsa kita, Indonesia! Semangat!!!!

Elien
Fak.Hukum Hitotsubashi 2006
yang (masih) sering ngaret meski buang sampahnya benar^^

Menteri Sikapi Serius Sikap PPI Jepang

October 15, 2009

Pemerintah jelas tidak akan memberikan izin Maxima untuk menggarap film tersebut. Masalahnya, ‘Menculik Miyabi’ dinilai tidak memenuhi empat unsur yang harus dikandung dalam cerita film.

Empat unsur itu yaitu, memperkuat jati diri bangsa, memiliki nilai edukatif, mencerdaskan dan memperkuat tali persaudaraan masyarakat Indonesia.

M Nuh juga mengungkapkan Maxima melakukan pembatalan karena ada banyak tekanan dari berbagai pihak. “Bahkan perhimpunan pelajar Indonesia di Jepang juga keberatan,” pungkasnya.

Selengkapnya lihat di detik.com

Pernyataan Sikap Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang Terkait Rencana Kunjungan Miyabi ke Indonesia

October 14, 2009

Berkaitan dengan rencana aktris bintang film porno asal Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi, untuk berkunjung dan melakukan syuting film di Indonesia, dengan ini kami Pengurus Pusat PPI mewakili pelajar-pelajar Indonesia di Jepang menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. Bahwa kami pelajar Indonesia di Jepang telah melihat dan merasakan secara langsung berbagai permasalahan di Jepang seperti kemunduran ekonomi yang dipicu oleh penuaan populasi dan keruntuhan fungsi keluarga sebagai institusi terkecil masyarakat. Kondisi-kondisi tersebut sedikit banyaknya dipicu oleh perilaku hidup generasi muda Jepang yang mengadopsi seks bebas dan tidak ingin terikat dalam lembaga pernikahan.
  2. Salah satu pihak yang berperan besar dalam merusak generasi muda Jepang ini adalah industri pornografi yang meliputi para aktor dan aktris seperti Miyabi yang secara sadar telah mengeksplotasi kehormatan dirinya dan merendahkan harkat martabat perempuan serta menghancurkan nilai-nilai ketimuran yang menjunjung tinggi kehormatan diri dan masyarakat.
  3. Produser film yang mengundang Miyabi menyatakan bahwa film yang akan dibintangi Miyabi tidak mengandung pornografi. Akan tetapi figur Miyabi pasti akan menggiring masyarakat lebih jauh kepada perilaku seks bebas yang berperan besar dalam menghancurkan lembaga pernikahan dan institusi keluarga.
  4. Untuk mempopulerkan Indonesia di mata dunia kita harus melakukan terobosan-terobosan yang cerdas dan kreatif sehingga dunia mengetahui kekayaan dan warisan kebudayaan yang kita miliki, bukan dengan kampanye kedatangan seorang aktris film porno seperti Miyabi. Dan untuk menjadi negara maju, Indonesia sangat membutuhkan transfer dan alih teknologi dari Jepang namun bukan transfer dan alih budaya hidup yang merusak masyarakat seperti perilaku Miyabi.
  5. Setelah melakukan kajian dengan matang dan mendalam, kami secara tegas meyatakan penolakan terhadap kedatangan Miyabi ke tanah air tercinta. Kami meminta pihak pengundang mempertimbangkan kembali kerusakan perilaku masyarakat yang jauh melebihi keuntungan komersial yang diperoleh dari pembuatan film yang dibintangi Miyabi.

Tokyo, 13 Oktober 2009

Ketua Komite Kajian Strategis PPI Jepang

Irwanda Wisnu Wardhana

Ketua Umum PPI Jepang

Farid Triawan

#Telah dimuat di detik.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.